Kebahagian

December 8th, 2007

Kebahagian manusia ada bila ia bisa membuka mata hatinya, dan menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti dan menyadari betapa ia dicintai. Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus…

Kebahagian manusia tidak dapat hadir karena tidak mau membuka hati, dan berusaha meraih apa yang tidak dapat diraih, terlalu memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan, tidak mau menerima dan mensyukuri apa yang ia miliki.

Keegoisan manusia yang menyebabkannya menjadi buta, keegoisan dan hanya memikirkan diri sendiri yang menyebabkan manusia tidak sadar bahwa ia begitu dicintai, tidak sadar bahwa saat ini, apa yang ada adalah baik untuknya…

Begitu banyak sahabat yang begitu mencintai, tapi karena terlalu memilih, menilai dan menghakimi sendiri.. justru sahabat sejati menjadi semakin jauh.. Terlalu memilih sahabat membuat manusia tak dapat menyadari di depan mata ada sahabat sejati yang dibutuhkannya..

Tiap tiap manusia memiliki arti dan peranan masing-masing, semua berbeda…tidak ada yang memiliki arti yang sama persis punya peranan dan kelebihan disatu hal, tidak harus memiliki peranan dan arti dalam hal lain.. dicintai oleh satu orang belum tentu disayang oleh orang
lain..

Kebahagiaan bersumber dari dalam diri sendiri, jangan beraharap dari diri manusia lain, karena orang lain dapat mengkhianati..

Kebahagiaan ada bila bisa menerima diri apa adanya, mencintai dan menghargai diri sendiri, mau mencintai dan menerima manusia lain..

Percaya kepada Tuhan.. bersyukur bahwa manusia selalu diberikan yang terbaik… sesuai yang diperbuat manusia itu sendiri, tak perlu berkeras hati, Ia akan memberi di saat yang tepat apa yang manusiaNya butuhkan, tidak harus saat ini, masih ada esok hari..

Seperti yang sedang teralami, mendapat suatu cobaan dan kesusaahaan adalah jalan
untuk dapat melihat kebahagiaan “menikmati kebahagiaan dalam kesusahaan hati”

Keyakinan

December 8th, 2007

Kalau ada orang bertanya kepada kita, apa kita punya keyakinan? Apa keyakinan kita? Secara spontan, biasanya kita menjawab dengan menyebut agama yang kita anut. Saya memaklumi jika kebanyakan orang, pada saat ditanya tentang keyakinannya akan selalu menjawab dengan menyebut agamanya. Hal itu mungkin disebabkan yang jadi pelopor tentang pentingnya keyakinan pada diri seseorang adalah para Nabi dan Rasul Tuhan, juga para pemimpin agama saat ini.

Di dalam agama kita masing-masing, selalu diajarkan tentang pentingnya keyakinan kita terhadap agama yang kita anut. Di sepanjang zaman, para pemimpin umat beragama selalu mendengung-dengungkan peringatan kepada para penganut agamanya, agar terus berusaha untuk selalu “mempertebal keyakinan” agamanya, agar terus berjuang “memiliki keyakinan” dari agamanya masing-masing.

Keyakinan akan memberikan kehidupan, kekuatan dan tindakan kepada kita. Dengan memiliki keyakinan, hidup kita akan lebih terarah dan mempunyai kepastian. Impuls-impuls pemikiran kita secara pasti akan dipengaruhi oleh keyakinan kita, keyakinan tentang kebenaran diri kita sebenarnya, keyakinan tentang keinginan dan impian kita; keyakinan tentang sasaran dan tujuan kita, keyakinan tentang masa depan sukses kita.

KEYAKINAN adalah sebuah unsur yang bisa mengubah getaran pemikiran biasa; dari pikiran yang terbatas, menjadi suatu bentuk padanan yang masuk ke dalam koridor spiritual; dan merupakan dasar dari semua “mukjizat”, serta misteri yang tidak bisa dianalisis dengan cara-cara ilmu pengetahuan. KEYAKINAN itu merupakan sebuah media tunggal dan satu-satunya, yang memungkinkan untuk membangkitkan suatu kekuatan dari sumber energi tanpa batas di dalam diri Anda; dan mengendalikannya untuk dimanfaatkan demi kebaikan manusia itu sendiri.

Seperti yang dikatakan oleh Napoleon Hill, seorang motivator dunia; “Tidak ada batas bagi pikiran, kecuali apa yang kita akui. Apapun yang bisa dipikirkan dan diyakini oleh pemikiran manusia, pasti bisa dicapai!” Contoh sederhana saja; Anda mungkin pernah mendengar atau melihat sendiri, seseorang bisa dengan selamat tanpa cedera sedikitpun, pada saat dia melintas berjalan di atas bara api hanya dengan kaki telanjang; tanpa memakai alas kaki.

Menurut Anda, apa yang bisa menyelamatkan kaki mereka dari panasnya bara api yang diinjaknya? Kenapa kaki mereka tidak bisa melepuh dan tidak cedera sama sekali? Dan yang penting lagi, kenapa mereka mau saja melakukan jalan-jalan di atas bara api itu? Mengapa mereka tidak ragu-ragu dan tidak takut cedera kakinya?

Jawabnya hanya satu kata, yaitu: KEYAKINAN. Yah - hanya dengan keyakinanlah mereka bisa dengan santai dan seenaknya berjalan di atas bara api yang demikian panasnya; dan selamat tiba di seberang tanpa cedera sedikitpun. Seandainya pada saat mereka melakukan “atraksi” jalan-jalan di atas bara api itu tanpa dilandasi dengan keyakinan diri, maka pastilah kaki mereka bakal melepuh, dan cedera karena panasnya bara api tersebut.

KEYAKINAN merupakan sebuah titik awal Anda untuk menuju kemakmuran dan kebahagiaan hidup sejati. Keyakinan Anda ibarat “sebuah tongkat besar pengungkit”, yang akan melejitkan diri Anda ke atas; ke suatu tempat berkumpulnya unsur-unsur sukses. Penting untuk Anda ketahui, yaitu: KEYAKINAN sebenarnya merupakan suatu keadaan pikiran, yang bisa dirangsang atau diciptakan oleh perintah peneguhan secara terus menerus lewat pikiran dan perkataan positif, sampai akhirnya meresap ke dalam pikiran bawah sadar.

Prinsip Keyakinan ini selalu berhasil untuk mencapai kejayaan dan kesuksesan kita, jika digunakan secara konstruktif; dan sebaliknya, kalau dipakai secara destruktif akan sangat bersifat menghancurkan hidup kita, membuat Anda semakin terpuruk di tengah kancah kehidupan yang sangat kompleks ini.

Setelah bisa menerima dan memahami prinsip KEYAKINAN DIRI, Anda akan memiliki kunci pintu utama, yang akan membuka pintu menuju ke dalam pikiran bawah sadar. Dan Anda pun bisa mengontrol pintu masuk utama tersebut, sehingga tidak mungkin ada pemikiran tak dikehendaki oleh Anda; yang akan sanggup menerobos masuk untuk mempengaruhi pikiran bawah sadar Anda. Karena Andalah yang pegang kendala kunci pintunya.

Ingatlah ini, pikiran bawah sadar Anda berfungsi secara suka rela. Anda berusaha mempengaruhinya atau tidak, pikiran bawah sadar Anda akan tetap dan selalu bekerja. Jika Anda tidak menanaminya dengan keinginan-keinginan positif, maka yang akan masuk ke dalamnya adalah suatu pemikiran tentang kelalaian Anda dan pikiran-pikiran yang negatif.

2 Renungan mengenai GOAL

November 8th, 2007

“All my life, I always wanted to be somebody. Now I see that I should have been more specific”
~Jane Wagner, The Search For Intelligent Life In The Universe, performed by Lily Tomlin

Banyak kita menghabiskan hari-hari mengikuti dan menerima apa yang dilemparkan oleh alam semesta kepada kita.
Beberapa kita menyebutnya sebagai menerima nasib, atau sudah suratan. Beberapa malah menyebutnya sebagai REALITA kehidupan.
Tapi, lucunya banyak dari kita selalu ingin menjadi ‘seseorang’.
Kalau ditanya apa yang kita inginkan, kita selalu bisa menjawabnya dengan lantang – seseorang yang bahagia, seseorang yang sukses, seseorang yang bisa berbuat sesuatu untuk orang lain, dll.
Apa yang terjadi? Pada sebuah titik, kita mungkin akhirnya sadar bahwa kita seharusnya bisa lebih SPESIFIK akan apa yang kita inginkan, karena kita seolah selalu berakhir di titik yang tidak memuaskan, alias tidak pernah merasa menjadi ‘seseorang’ seperti yang kita inginkan.
Bahagia seperti apa? Sukses yang bagaimana? Berbuat sesuatu, apa bentuk konkritnya?
GOAL adalah sesuatu yang SPESIFIK – punya tabungan 100 juta, menjadi karyawan terbaik tahun ini, menikah tahun depan, punya rumah sendiri, dll.
SPESIFIK-lah dengan apa yang Anda inginkan, dan pikiran Anda yang akan menyetir Anda ke sana.
Apakah kita sudah SPESIFIK ingin menjadi ‘somebody’ yang seperti apa?

“Shoot for the moon. Even if you miss, you’ll land among the stars”
~Les Brown

Seberapa jauh kita bisa menembak sasaran kita?
Seberapa jauh kita bisa merentangkan sasaran kita?
Seberapa banyak yang bisa kita peroleh atau capai?
Dalam ajaran NLP, kita hanya bisa terus untuk merentangkan keinginan, tanpa bisa tahu secara pasti batasan kita.
Kita bukan Superman, apalagi bukan Tuhan, yang seolah kita bisa mencapai apapun yang kita inginkan.
Tapi kita sendiri tidak tahu sampai di batas mana kita bisa melakukan sesuatu.
Kita hanya bisa set GOAL, lakukan, set GOAL berikutnya, lakukan, begitu seterusnya……
Apakah kita sudah membidik SASARAN yang membuat kita merentangkan segala kemampuan kita atau bahkan di luar perkiraan kemampuan kita?
Seperti kata Les Brown, kalau tidak mendapat bulan, bintang-bintang pun tidak kalah indahnya!

2 Renungan di Saat-saat Sulit

November 8th, 2007

“When your dreams turn to dust, vacuum”
~Author UnknownKapan terakhir kali impian Anda hancur berkeping-keping?
Kapan terakhir kali Anda melihat harapan Anda menjadi debu?
Sesuai anjuran di atas, daripada kita berlama-lama meratapi dan bermandi debu, yang malah bisa membawa masalah lain, sedotlah debu tersebut dengan vacuum cleaner!Get over it! Move on!
Ini sama seperti anjuran bijak klasik yang mengatakan persoalannya bukan apakah kita jatuh atau tidak, tapi seberapa lama kita berada di bawah.
Kalau kita mau melihat ke belakang kita mungkin sudah tidak bisa menghitung lagi berapa kali impian kita hancur saking banyaknya, dan setiap kali pula kita seolah sudah tahu bahwa meratapi kegagalan tersebut tidak berguna.
Pertanyaannya bukan apakah kita boleh meratapi atau tidak, karena kekesalan, kekecewaan, kemarahan, kesedihan, dan sejenisnya, adalah alami.
Pertanyaannya adalah seberapa lama kita akan membawa impian yang hancur ini menjadi bagian dari hidup kita, untuk kemudian kita lahirkan menjadi ketidakpercayaan diri, dendam, sakit hati, stress, depresi berkepanjangan, dan lain-lain.
Mekanisme pertahanan tubuh kita seolah sudah diprogram, bahwa ketika sebuah masalah besar datang, kita akan menghadapi 2 situasi: kita mati, atau bertambah kuat.
Jadi kalau impian kita yang sekarang mati dan kita tidak mati bersamanya, maka hanya kemungkinan kedua yang eksis, yakni kita bertambah kuat.
Untuk direnungkan: berapa lama kita MEMILIH untuk meratapi impian kita yang telah jadi debu?

“It’s not that I’m so smart, it’s just that I stay with problems longer”
~Albert Einstein

Kita mungkin sudah sangat sering mendengarkan kisah-kisah heroik mengenai para tokoh yang dengan gagahnya bisa melewati berbagai hambatan atau masa-masa sulit, dan pada akhirnya bisa berseru kegirangan dalam kesuksesan mereka.
Sure, itu kisah-kisah yang luar biasa, karena itu pula beberapa dari kita juga berpendapat bahwa itu terjadi kerena para tokoh itu orang luar biasa dan mereka hanya biasa saja.
Kembali lagi, saya mau mengajak sahabat sekalian untuk melihat kembali ke belakang sejenak.
Ada PR di masa sekolah yang dengan sedikit atau banyak paksaan, melalui godaan ngantuk, TV, main, dll, kita akhirnya bisa selesaikan dan dapat nilai yang lebih baik.
Ada pekerjaan yang dengan sedikit lebih banyak paksaan, melalui keletihan fisik dan mental, terselesaikan juga, bahkan kadang menghasilkan sesuatu yang luar biasa, bahkan kadang kita sendiri bertanya “Bagaimana saya bisa melakukan ini?”
Ada situasi, yang dengan sedikit lebih banyak usaha untuk mengontrol emosi, bisa lebih kondusif, dan kita juga berkata “untung tadi saya tahan emosi saya”
Atau saat kita berada di ujian dalam hubungan kita dengan lawan jenis, dan saat dengan sedikit usaha ekstra melalui masalah tersebut, kita hari ini bisa mempertahankan hubungan tersebut.
Kita akan menemukan beberapa, mungkin juga banyak bukti bahwa dengan bertahan dalam masalah kita bisa meraih kemenangan yang lebih manis.
Seperti kata Einstein di atas, seberapa lama kita bersedia MEMILIH untuk bertahan dan menghadapi masalah?
Seberapa besar usaha ekstra yang ingin kita keluarkan?
Seberapa berharga hasil yang ingin kita peroleh sehingga kita MEMILIH akan bertahan seberapa lamapun dalam masalah tersebut?

2 Renungan Mengenai Kerja

November 8th, 2007

Many people quit looking for work when they find a job.

~Author Unknown

Banyak dari kita menghabiskan waktu yang sangat banyak untuk mengejar sebuah PEKERJAAN. Tapi banyak dari kita juga yang lebih ingin mengejar PEKERJAAN-nya sendiri daripada menjadi karyawan yang hebat setelah PEKERJAAN tersebut didapatkan.

Agak ironis, karena seperti kata bijak di atas, saat kita menganggur dan butuh penghasilan untuk hidup, kita mencari-cari PEKERJAAN. Tapi setelah mendapatkan sebuah JABATAN PEKERJAAN dan merasa sudah mendapatkan penghasilan, kita pun berhenti mencari PEKERJAAN dalam JABATAN kita. Seolah PEKERJAAN yang memberikan penghasilan bukan lagi tujuan, melainkan menjadi penghalang kesenangan untuk mendapatkan penghasilan itu sendiri. Seolah PEKERJAAN adalah sesuatu yang mengganggu kesenangan.

Kapan terakhir kali kita mengejar PEKERJAAN dalam jabatan kita?

The difference between a job and a career is the difference between forty and sixty hours a week.

~Robert Frost

Kata bijak di atas mengajarkan kita bahwa ada orang yang BEKERJA sebatas BEKERJA atau TUGAS-nya sebagai karyawan, sedangkan ada yang BEKERJA karena itu bagian hidupnya.

Tidak mengenal waktu, tempat, lokasi, suasana, PEKERJAAN-nya adalah bagian dari dirinya.

Kita bisa melihat di sekeliling kita, orang-orang yang begitu berdedikasi terhadap PEKERJAAN-nya dan benar-benar menganggapnya sebagai KARIR.

Tanpa instruksi, tanpa desakan tuntutan, tanpa pamrih, mereka maju, meminta atau mencari tanggung jawab tambahan, mengerjakan, menaikan standard kinerja sendiri, dan lain-lain.

Selalu ada waktu lebih, selalu ada energi lebih, selalu ada antusiasme dan kecintaan PEKERJAAN, selalu ada PASSION ……………..

Saya menemukan bahwa itu yang membedakan antara orang yang disukai dan dicari oleh berbagai kesuksesan dan kesempatan dalam hidup, dengan orang yang hanya selalu bisa memperoleh kapasitas yang sama dalam hidup.

Jadi, yang kita lakukan saat ini, apakah itu PEKERJAAN atau KARIR?